JOHANNESBURG - Dunia kehilangan salah satu tokoh penting. Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan pejuang persamaan hak menghembuskan nafas terakhirnya di Johannesburg, 5 Desember 2013.
Dilahirkan dengan nama Rohihlahla Mandela di Transkei, 18 Juli 1918, yang dalam bahasa lokal Xhosa berarti pembuat masalah. Mungkin tidak pernah terpikir bagi Mandela akan menjadi panutan tidak hanya di Afsel tetapi di seluruh dunia.
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
Pria yang biasa dipanggil Madiba ini baru diberikan nama Nelson oleh seorang gurunya. Ayah Madiba adalah seorang penasihat di kelurga kerajaan Thembu. Mandela mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum di Universitas Fort Hayed lalu dilanjutkan Universitas Witwatersrand. Setelah mendapatkan pendidikan yang baik barulah karir politik Mandela untuk mengubah Afsel dan dunia dimulai.
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
Keterlibatan di ANC
Mandela menapaki karir politik ketika memilih bergabung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC). Sebuah gerakan multinasional yang bertujuan untuk mengadakan reformasi politik di Afsel. Di 1948, politik Aphertheid mulai diterapkan di Afsel saat Partai Nasional menguasai Pemerintahan Afsel. Melihat tindakan tersebut ANC tidak tinggal diam, gerakan ini mengadakan perlawanan dengan mengadakan kampanye pasif mengenai perlawanan hukuman apartheid.
Dikarenakan perannya yang aktif di ANC dirinya menjadi Wakil Presiden di 1952. Bersama dengan kerabatnya di ANC Oliver Tambo dia membuat gerakan tersebut lebih radikal dalam perlawanannya melawan politik perbedaan warna kulit. "Ancaman" dari Mandela benar membuat pemerintahan Afsel ketar-ketir, dia ditangkap dan diadili atas tuduhan pengkhianatan. Pengadilan pertama Mandela berlangsung selama lima tahun dan berujung dengan pembebasan dirinya.
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
Pembunuhan di Sharpeville
Semenjak dimulai politik perbedaan warna kulit, kekerasan bagi kaum kulit hitam di Afsel semakin meningkat. Di Maret 1960, 69 warga kulit hitam yang merupakan antiapartheid dibunuh oleh polisi di Sharpville. Tidak lama setelah kejadian itu, Pemerintah Afsel segera mengumumkan keadaan darurat dan melarang gerakan ANC.
Sebagai respons atas pelarangan tersebut, ANC memilih langkah ekstrem dengan mendirikan sayap militer "Umkhonto We Siwze" atau "Spear the Nation" dan Mandela langsung diangkat menjadi kepala komandan. Dalam tugasnya, dia bepergian ke luar negeri untuk mencari dukungan dan melatih sayap militer ANC. (ade)
sumber: okezone.com
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
http://www.campaign.com/
No comments:
Post a Comment